Ketika Tuhan memerintahkan Noah untuk membuat perahu besar demi menyelamatkan umat manusia dan hewan-hewan dari banjir besar, dunia zaman itu mungkin belum punya istilah deforestasi. Tapi coba bayangkan, jika kisah ini terjadi di era sekarang, Noah bisa jadi menghadapi lebih banyak protes dari aktivis lingkungan dibandingkan pujian sebagai penyelamat umat.
Deforestasi ala Noah
Menurut catatan kuno (atau lebih tepatnya cerita rakyat), Noah harus menebang banyak pohon untuk membuat perahu sebesar itu—cukup besar untuk menampung keluarganya, sepasang dari setiap spesies hewan, dan mungkin beberapa cadangan makanan. Jumlah kayu yang dibutuhkan tentu saja fantastis, dan dalam bayangan modern, mungkin seluruh hutan Amazon zaman purba sudah habis ditebang demi proyek ambisius ini.
Tetapi, siapa yang akan menyalahkan Noah? Dia hanya melaksanakan perintah, kan? Kalau di zaman sekarang, mungkin dia akan jadi target kampanye “Save the Trees, Stop Noah” dari Greenpeace atau dihujat di media sosial karena merusak ekosistem.
Manusia Modern dan Perahu Masa Kini
Di sisi lain, kisah ini bisa menjadi alegori satir untuk situasi modern: proyek besar yang dilakukan demi “kemanusiaan” sering kali mengorbankan alam. Apakah kita sedang mengulang sejarah dengan cara yang lebih besar dan masif? Proyek tambang, pembukaan lahan sawit, hingga pembangunan jalan tol mungkin menjadi “perahu” kita di zaman sekarang—dan hutan yang ditebang menjadi harga yang harus dibayar.
Binatang yang Protes
Jika binatang bisa berbicara, mungkin mereka akan berkata:
Singa: “Oke, kami naik ke perahu, tapi kenapa tempat tidur kami dari kayu yang dulunya rumah kami?“
Burung Hantu: “Keren sih, ada penyelamatan massal. Tapi di mana aku bertengger kalau semua pohon habis ditebang?“
Gajah: “Aku tidak tahu apa yang lebih menyeramkan, banjir besar atau Noah dengan kapaknya.“
Kisah Noah mengingatkan kita akan pentingnya menyelamatkan kehidupan, tetapi apakah itu berarti harus mengorbankan alam sepenuhnya? Dalam dunia modern, kita sering mencari solusi untuk masalah besar, tetapi bagaimana kita bisa memastikan solusi itu tidak menciptakan masalah baru?
Ga tau ah takut dosa