Membaca 1984 karya George Orwell terasa seperti menatap sebuah cermin yang aneh cermin yang memperlihatkan masa depan, tapi sekaligus menelanjangi masa kini. Diterjemahkan dengan apik oleh Landung Simatupang, novel ini bukan sekadar cerita distopia, melainkan semacam alarm keras tentang apa yang terjadi ketika totalitarianisme berhasil menguasai seluruh sisi kehidupan manusia.
Cerita berpusat pada Winston Smith, seorang pegawai di Kementerian Kebenaran (Minitrue). Pekerjaannya sederhana tapi mengerikan: menulis ulang sejarah. Ia menghapus nama, mengubah tanggal, memalsukan fakta semua demi memastikan bahwa Bung Besar selalu benar, bahwa Partai tidak pernah salah.
Ada satu kutipan yang begitu menusuk, dan masih terus bergaung di kepala saya:
“Kamu sadari bahwa masa silam, mulai dari kemarin, sudah sungguh-sungguh dihapus? Kalau masa silam itu masih bertahan, itu adalah dalam beberapa benda padat yang tanpa kata-kata sama sekali, seperti bongkah kaca di sana itu. Kita sudah tidak tahu apa-apa sama sekali tentang Revolusi dan tahun-tahun sebelum Revolusi. Semua catatan sudah dimusnahkan atau dipalsukan, setiap buku sudah ditulis ulang, setiap gambar telah dilukis atau dicat ulang, setiap patung dan jalan dan bangunan diberi nama baru, setiap hari dan tanggal kejadian sudah diubah. Dan, proses itu terus berlangsung hari demi hari dan menit demi menit. Sejarah sudah berhenti. Tidak ada apa-apa lagi, kecuali suatu masa kini tanpa akhir yang di dalamnya Partai selalu benar.”
1984 – George Orwell alih bahasa oleh Landung Simatupang
Membaca kalimat ini membuat saya merinding, karena dunia Winston terasa tidak jauh berbeda dengan dunia kita. Di zaman ini, bukan hanya negara yang bisa memanipulasi kebenaran. Media sosial, algoritma, bahkan diri kita sendiri pun bisa jadi agen penulis ulang sejarah. Kita percaya pada apa yang sering kita lihat, bukan pada apa yang benar-benar terjadi.
Yang membuat novel ini kuat bukan hanya pesannya, tetapi juga caranya menyusup ke dalam pikiran kita. Orwell menulis dengan sederhana, tapi ide-idenya menempel. Tentang bahasa, misalnya, melalui Newspeak. Bagaimana jika kosakata kita dipersempit? Maka cara berpikir kita pun ikut menyusut. Di titik itu, manusia tidak hanya dikontrol secara fisik, tetapi juga secara mental.
Kadang saya berpikir: mungkin yang paling menakutkan dari 1984 bukanlah Bung Besar itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa banyak orang rela tunduk, bahkan ikut menjaga sistem yang menindas mereka. Winston berusaha melawan, tapi pada akhirnya, ia menyerah. Di sinilah novel ini benar-benar terasa kejam: ia tidak menawarkan harapan, hanya peringatan.
Mungkin itu sebabnya saya merasa buku ini wajib dibaca, terutama bagi siapa pun yang ingin memahami bagaimana kuasa bisa membentuk cara kita melihat kenyataan. Membaca 1984 membuat saya lebih curiga pada kata “resmi,” lebih berhati-hati pada klaim kebenaran yang terlalu mutlak, dan lebih sadar bahwa sejarah dimana pun dan kapan pun bisa saja ditulis ulang dengan cara yang halus.
Dan setiap kali saya menutup bukunya, saya bertanya pada diri sendiri: apakah hari ini Bung Besar sudah menulis ulang sejarah lagi?
Catatan Tambahan :
saya pinjam ini di buku Perpustakaan Jakarta – Terima kasih perpus, kalian bisa meminjamnya secara gratis di perpus tersebut dengan membuat akun dan melakukan verifikasi akun. bukunya sebagus itu, itulah kenapa buku nya dicetak berkalikalikalikalikalikali yang saya pinjam ini cetakan ke empat tahun 2021
